Demo Blog

Maaf, sudut pandang kita berbeda!

by Fauzan on Nov.22, 2009, under


- Kenapa harus berbohong?
- Apa berbohong itu menyenangkan?
- Seberapa menarik berbohong itu?

Berawal dari pertanyaan pertama, Kenapa kita berbohong? Jawaban pertanyaan ini bersifat relatif. Setiap individu pasti punya alasan tersendiri. Biar orang yang kita bohong (objek) tidak merasa dirugikan, biar imej kita terhadap objek tetap terpelihara (ababil sekarang lebih mengenal istilah jaim, atau biar fakta yang seharusnya jelek terlihat menakjubkan bagi orang lain… hanya itu? Tentu tujuan berbohong itu ga sesederhana itu, satu page ga bakalan cukup kalo ngelist alasannya doank. Lets say it’s just the introduction.
Next, apakah berbohong itu menyenangkan? Disini jawabannya lebih sempit dibandingkan pertanyaan pertama. Tentu menyenangkan. Ada perasaan terbebas dari rasa takut akan kesalahan yang udah kita lakuin. But lets see the other side, siapa yang dirugikan tas kebohongan tadi? Tentu si objek yang dibohongi. Stop! jangan diteruskan.
Seberapa menarik berbohong itu? Ini merupakan bagian yang aku suka dari artikel ini. Rasa senang saat berbohong itu mungkin ada. Kesal saat tahu udah dibohongi juga pasti dirasain satu pihak. But somehow, keadaan pada pertanyaan kedua kadang bisa tertukar. Pernah merasakan kondisi dimana dibohongi itu menyenangkan dan keadaan ini mengakibatkan subjek kebohongan menjadi merasa dirugikan? Maybe YES, maybe NO. letak keseruan permainan ini ada saat kita menempatkan diri kita pada posisi sedang berbohong meskipun sebenarnya kita yang dibohongi.  
Sadar atau tidak, seseorang berbohong untuk mengkondisikan dirinya seolah-olah ia sedang baik-baik saja. “aku sedang A” padahal kenyataannya ia sedang B. sejauh ini siapa yang dirugikan? Objek yang dibohongi? Mungkin benar objek yang dirugikan, tapi pernah memikirkannya secara terbalik? Saat seseorang berbohong, ia mengharapkan kita percaya akan apa yang sedang ia lakukan. Saat kita mempercayai kebohongan tersebut, maka tujuan hadirnya kebohongan itu udah terpenuhi (1-0 untuk subjek).
Sekarang gimana biar imbang? Objek yang dibohongi kadang lebih cerdas saat disuguhi kebohongan sederhana tersebut. Pernah membayangkan ada objek yang mengkondisikan dirinya untuk dibohongi? Belum sempat memikirkan ada kondisi seperti itu? Its happening dude! Saat seseorang mengkondisikan dirinya untuk dibohongi, subjek yang berbohong membangun kebohongan diatas objek yang rencananya akan dibohongi. Saat subjek menggerakkan kebohongannya, subjek kadang lupa kalau sebenarnya ia sudah membangun satu kebohongan diatas kebohongan lainnya. Jika sudah seperti ini, who takes the whole control? (1-0 untuk objek yang dibohongi).
Sesederhana itukah berbohong? Nope!  1 hal yang harus aku tekankan. Kebohongan hanya akan mengkondisikan diri kita ke tingkat yang lebih SAMPAH. Secara tidak langsung kita mengatakan kalau kita benar-benar tidak mampu atau tidak cukup berani untuk jujur. Apa aku terlalu kasar? Of course NO. saat seseorang membohongi kita, secara sadar ia meletakkan kita ke posisi PALING TIDAK PENTING dan dengan sadar pula meletakkan KEBOHONGAN ke posisi yang seharusnya menjadi milik kita. Apa pendapat kalian untuk orang yang dengan sengaja menendang kita hanya untuk hal yang TIDAK LEBIH PENTING dari kita? Merasa direndahkan???
Satu hal yang aku sarankan “jika seseorang membohongimu, ia telah merendahkanmu. Jika seseorang menyembunyikan sesuatu dari mu, ia sebenarnya menggambarkan secara tersirat bahwa kamu itu bukan apa-apa. Bukan hanya pembohong itu ga pantas ada bersama kamu, tapi kamu sebenarnya lebih pantas berada bersama orang yang lebih memaknai kamu dengan kejujuran mereka.”
0 comments more...

0 comments

Post a Comment

Pengen baca artikel lain di blog ini?

Pake aja Search dibawah ini:

Kalo artikel yang kamu cari ga ada? tinggalin aja komentar disalah satu artikel. komentar kamu bakal jadi referensi buat artikel yang baru nantinya

There was an error in this gadget
There was an error in this gadget